Memahami Primbon Jawa Lengkap Neptu Hari dan Pasaran untuk Hitung Weton

Neptu adalah nilai angka yang ditempelkan pada tiap hari dalam seminggu dan tiap pasaran dalam siklus lima harian, dipakai dalam tradisi Jawa sebagai dasar berbagai hitungan. Weton adalah gabungan hari Masehi dengan pasaran, misalnya Selasa Kliwon atau Jumat Legi. Pasaran sendiri adalah siklus lima hari, Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon, yang berjalan terus menerus tanpa berhenti, terlepas dari nama hari biasa yang kita kenal sehari-hari.

Neptu, Weton, dan Pasaran: Tiga Istilah yang Sering Tertukar

Banyak orang memakai ketiga kata ini seolah sama, padahal fungsinya beda. Neptu adalah angkanya, weton adalah gabungan namanya, dan pasaran adalah siklus lima hari yang jadi separuh dari weton itu. Kalender Masehi memberi nama hari dari Minggu sampai Sabtu, sedangkan siklus pasaran berjalan sendiri di sampingnya, sehingga tanggal yang sama tiap tahun bisa jatuh pada pasaran yang berbeda.

Ketiga istilah ini jadi pijakan untuk hitungan primbon yang lebih jauh, seperti membaca watak seseorang, mencari hari yang dianggap baik untuk suatu keperluan, atau menilai kecocokan weton calon pasangan. Tanpa memahami neptu dan pasaran lebih dulu, hitungan-hitungan itu tidak bisa dijalankan.

Nilai Neptu Hari dan Neptu Pasaran yang Umum Dipakai

Berikut nilai neptu yang paling umum dipakai dalam primbon Jawa, baik dalam buku cetak maupun aplikasi kalender Jawa.

Hari Neptu
Minggu 5
Senin 4
Selasa 3
Rabu 7
Kamis 8
Jumat 6
Sabtu 9
Pasaran Neptu
Legi 5
Pahing 9
Pon 7
Wage 4
Kliwon 8

Angka-angka ini sudah dipakai luas dan dianggap baku, tetapi beberapa naskah lama menuliskan urutan penyebutan pasaran atau hari dengan susunan yang sedikit berbeda. Nilainya sendiri jarang berubah antar sumber, yang berbeda biasanya hanya urutan penyebutannya.

Cara Menjumlahkan Neptu untuk Menemukan Weton Seseorang

Langkah pertama adalah mengetahui hari dan pasaran kelahiran lebih dulu. Cara paling praktis adalah membuka kalender Jawa cetak atau aplikasi kalender yang menyertakan pasaran, lalu memasukkan tanggal lahir Masehi.

Misalnya seseorang lahir pada hari yang jatuh Kamis Kliwon. Neptu Kamis bernilai 8, neptu Kliwon bernilai 8, sehingga jumlah neptu weton itu adalah 16. Contoh lain, Selasa Legi dihitung dari neptu Selasa 3 ditambah neptu Legi 5, hasilnya 8. Cara menjumlahkannya sama untuk kombinasi hari dan pasaran apa pun, tinggal mencocokkan nilai dari dua tabel di atas.

Hasil penjumlahan inilah yang kemudian dipakai sebagai dasar tafsir lain, seperti membaca watak seseorang berdasarkan wetonnya, mencari hari yang dianggap baik untuk suatu keperluan, atau menghitung kecocokan weton dua orang yang berencana menikah. Tanpa angka jumlah neptu ini, tafsir-tafsir tersebut tidak punya titik awal.

Apa yang Dikaitkan dengan Jumlah Neptu dalam Tradisi

Dalam tradisi Jawa, jumlah neptu dipakai membaca beberapa hal sekaligus, mulai dari watak bawaan seseorang, potensi hari yang dianggap baik untuk suatu kegiatan, sampai kecocokan weton dua calon pasangan. Cara membacanya berbeda-beda tergantung keperluan, dan setiap keperluan punya cara olah angka sendiri yang tidak sama dengan yang lain.

Tafsir atas satu jumlah neptu juga bisa berbeda antar daerah dan antar penulis primbon. Buku primbon dari satu penerbit bisa menafsirkan angka 16 dengan penekanan berbeda dibanding buku primbon dari penerbit lain, dan itu dianggap wajar dalam tradisi lisan yang diwariskan turun temurun.

Karena tafsir per angka ini cukup panjang dan bercabang, situs ini membahasnya lebih rinci di artikel tersendiri soal watak weton dan hitungan rejeki, supaya penjelasannya tidak dipadatkan setengah-setengah di sini.

Dari Naskah Mana Istilah Neptu dan Pasaran Ini Berasal

Sistem neptu dan pasaran berkembang dalam tradisi lisan dan naskah Jawa yang disalin ulang selama bergenerasi, bukan dari satu buku tunggal yang bisa disebut sumber pastinya. Isi dan urutan dalam kitab primbon berbeda antar cetakan dan salinan, sehingga menyebut nomor bab atau halaman tertentu berisiko keliru dan tidak akan sama antara satu buku dengan buku lain.

Secara garis besar, sistem ini dipakai untuk memadukan kalender Masehi yang berputar tujuh hari dengan siklus pasaran lokal yang berputar lima hari. Perpaduan dua siklus inilah yang membuat weton punya banyak variasi kombinasi, dan itu sebabnya hitungan neptu bisa dipakai untuk keperluan yang jauh lebih beragam ketimbang sekadar mengetahui hari kelahiran.

Pertanyaan yang Sering Muncul soal Neptu Hari dan Pasaran

Apakah neptu hari dan pasaran sama di semua daerah di Jawa?

Nilai angkanya sendiri relatif seragam dan dipakai luas, tetapi cara menafsirkan hasil penjumlahannya bisa berbeda antar daerah, bahkan antar keluarga yang memegang naskah primbon berbeda.

Kalau tidak tahu pasaran kelahiran sendiri, bagaimana cara mencarinya?

Cara paling mudah memasukkan tanggal lahir Masehi ke kalender Jawa cetak atau aplikasi kalender yang menyertakan pasaran, hasilnya akan langsung menunjukkan weton lengkap.

Apakah nilai neptu bisa dipakai sendirian tanpa dihitung dengan tafsir lain?

Angka neptu hanya jadi dasar hitungan, ia tidak berdiri sendiri sebagai tafsir apa pun sampai dipadukan dengan aturan tafsir lain seperti watak weton, hari baik, atau kecocokan pasangan.