Dalam primbon Jawa tanam padi biasanya dimulai dengan menghitung hari dan pasaran yang dianggap selaras. Petani menjumlahkan neptu hari lahir atau hari rencana tanam dengan neptu pasaran, lalu membaca sisa hitungannya menurut tafsir tradisional. Menurut tafsir tradisional, hasil yang baik dikaitkan dengan harapan bibit tumbuh subur dan panen lancar, meski ini dipahami sebagai bagian kepercayaan, bukan kepastian hasil panen.
Cara Menghitung Menurut Primbon Jawa
Dalam sebagian sumber primbon, setiap hari dan pasaran mempunyai nilai neptu. Nilai yang umum dipakai adalah Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, Sabtu 9, Minggu 5. Untuk pasaran, Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, dan Kliwon 8. Tafsirnya dapat berbeda menurut sumber atau daerah, jadi angka ini perlu disesuaikan dengan tradisi yang dipakai keluarga atau desa setempat.
Cara menghitungnya cukup sederhana. Jumlahkan neptu hari dan neptu pasaran hari rencana mulai menanam. Misalnya rencana tanam hari Jumat Kliwon, maka 6 ditambah 8 sama dengan 14. Jumlah 14 inilah yang kemudian dibagi atau disisakan menurut metode petungan yang dipakai, misalnya dibagi 4, 5, atau 7.
| Hasil Petungan | Tafsir Tradisional | Catatan |
|---|---|---|
| Sisa kecil atau jatuh kategori baik | Dalam primbon Jawa dianggap mendukung pertumbuhan | Sering dipilih untuk mulai tandur |
| Sisa tengah | Sebagian tradisi Jawa memaknai perlu kehati-hatian | Biasanya tetap dipakai bila waktu mendesak |
| Sisa besar atau kategori kurang baik | Dalam sebagian sumber primbon dianggap kurang selaras | Nama kategori berbeda antar daerah |
Makna Hasil Menurut Tradisi
Dalam primbon Jawa, hasil petungan dibaca sebagai isyarat tradisi. Kategori yang baik sering dimaknai sebagai harapan tanaman kuat, air cukup, dan hama jauh. Kategori yang kurang baik dimaknai sebagai ajakan menunda sehari atau memilih pasaran lain. Tafsirnya dapat berbeda menurut sumber atau daerah, ada yang memakai nama naga, dara, atau hitungan sisa, sehingga tidak ada satu versi yang berlaku untuk semua orang.
Pertimbangan di Luar Petungan
Petungan dalam sebagian tradisi Jawa dipakai sebagai pelengkap, bukan penentu utama. Umur bibit, ketersediaan air irigasi, perkiraan hujan, kesiapan tenaga tanam, serta biaya pupuk dan upah tetap perlu diperhitungkan. Keputusan tanam sebaiknya mengikuti kondisi nyata di sawah, lalu hari baik dipakai untuk menata niat dan kebersamaan keluarga tani.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah hari baik tanam padi sama di semua daerah?
Tidak selalu sama. Dalam sebagian sumber primbon, metode membagi hasil dan nama kategorinya berbeda. Sebagian desa juga mempunyai kebiasaan sendiri, misalnya menghindari hari tertentu atau mengikuti pasaran orang tua. Ikuti tradisi setempat yang sudah dikenal.
Bolehkah menanam di luar hari yang dihitung?
Menurut tafsir tradisional, boleh saja, terutama bila bibit sudah siap dan air terbatas. Sebagian tradisi Jawa memaknai hari kurang baik sebagai pengingat agar lebih teliti merawat tanaman, bukan larangan mutlak. Utamakan kondisi sawah dan cuaca saat memutuskan.