Sebelum membuka lahan atau menabur bibit, sebagian petani Jawa masih mencocokkan hari mulai tanam dengan petungan primbon. Caranya sederhana: menjumlahkan neptu hari dan pasaran pada tanggal yang dipilih, lalu mencocokkan hasilnya dengan tafsir tradisional tentang masa tanam yang dianggap subur atau kurang cocok.
Apa yang Diperhitungkan dalam Primbon Jawa Bercocok Tanam
Petani tradisional Jawa mengenal petungan waktu tanam berdasarkan hari dan pasaran, kadang juga wuku. Hitungan ini dipakai sebagai panduan memilih hari mulai mengolah lahan atau menanam bibit, bukan aturan yang harus dipatuhi mutlak.
Tafsirnya dapat berbeda menurut sumber atau daerah. Tradisi pertanian Jawa tidak seragam dari satu wilayah ke wilayah lain, sehingga petani di lereng gunung dan petani di pesisir bisa punya kebiasaan petungan yang berlainan meski sama-sama memakai dasar neptu hari dan pasaran.
Cara Menghitung Menurut Primbon Jawa
Dasar hitungannya adalah neptu, yaitu nilai angka yang melekat pada tiap hari dalam seminggu (Minggu sampai Sabtu) dan tiap pasaran dalam siklus lima hari (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Neptu hari dan neptu pasaran dijumlahkan untuk mendapatkan satu angka petungan.
Sebagai contoh, jika seseorang ingin mulai menanam pada hari Selasa Kliwon, neptu hari Selasa dijumlahkan dengan neptu pasaran Kliwon. Hasil penjumlahan itulah yang kemudian dicocokkan dengan kategori tradisional dalam primbon yang dipakai.
Sebagian sumber primbon juga memperhitungkan wuku atau musim tanam sebagai variasi tambahan. Karena detail wuku ini bervariasi antar naskah dan tidak semua sumber sepakat, penjelasannya lebih tepat dicek langsung pada primbon yang biasa dipakai di daerah masing-masing.
Tabel Neptu Hari dan Pasaran untuk Petungan Tanam
| Hari/Pasaran | Nilai Neptu | Catatan |
|---|---|---|
| Minggu | 5 | Neptu hari |
| Senin | 4 | Neptu hari |
| Selasa | 3 | Neptu hari |
| Rabu | 7 | Neptu hari |
| Kamis | 8 | Neptu hari |
| Jumat | 6 | Neptu hari |
| Sabtu | 9 | Neptu hari |
| Legi | 5 | Neptu pasaran |
| Pahing | 9 | Neptu pasaran |
| Pon | 7 | Neptu pasaran |
| Wage | 4 | Neptu pasaran |
| Kliwon | 8 | Neptu pasaran |
Makna Hasil Petungan Menurut Tradisi
Dalam sebagian sumber primbon, jumlah neptu tertentu dikaitkan dengan tafsir masa tanam yang dianggap subur, sedang, atau kurang cocok. Angka yang tinggi sering dimaknai sebagai tanda kesuburan, sementara angka rendah kadang ditafsirkan sebaliknya, meski penamaan kategorinya tidak baku.
Ini tetap tafsir tradisional, bukan jaminan hasil panen. Penamaan kategori bisa berbeda antar sumber primbon atau antar daerah, sehingga hasil petungan yang sama bisa dibaca berbeda oleh dua orang yang memakai naskah primbon yang tidak sama.
Pertimbangan Praktis di Luar Petungan
Kesuburan tanah, ketersediaan air, musim hujan atau kemarau, dan jenis tanaman jauh lebih menentukan hasil panen dibanding hari mulai tanam. Padi yang ditanam di lahan tadah hujan tanpa memperhatikan awal musim akan berisiko gagal terlepas dari petungan apapun yang dipakai.
Petani modern tetap perlu memperhatikan prakiraan cuaca, potensi hama, dan waktu tanam yang disarankan penyuluh pertanian setempat. Primbon dapat dijadikan bagian dari tradisi yang menyertai kegiatan bertani, bukan pengganti perencanaan pertanian yang matang.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah primbon Jawa bercocok tanam masih dipakai petani sekarang?
Sebagian masyarakat masih mempraktikkannya sebagai tradisi turun-temurun, biasanya berdampingan dengan perhitungan musim dan saran penyuluh pertanian, bukan sebagai satu-satunya acuan.
Apakah hari yang dianggap kurang baik berarti tanaman pasti gagal?
Tidak. Ini hanya tafsir tradisional, dan hasil panen dipengaruhi banyak faktor lain seperti tanah, air, cuaca, serta perawatan tanaman itu sendiri.
Bagaimana jika hasil petungan berbeda antar sumber primbon?
Perbedaan seperti ini wajar terjadi karena tradisi lisan dan tertulis mengenai primbon bervariasi antar daerah, dan tidak ada satu versi yang dianggap paling benar dibanding versi lainnya.