Kalau kamu sedang mencari hitungan hari slametan karena baru kehilangan orang terdekat, semoga kamu dan keluarga diberi kekuatan menjalani hari-hari ini. Penjelasan di bawah murni soal tradisi penanggalan Jawa, bukan tafsir tentang keadaan almarhum di alam sana. Primbon berhenti pada urusan hari dan peringatan, tidak lebih dari itu.
Hitungan hari slametan orang meninggal dalam tradisi Jawa
Yang dihitung dalam primbon soal kematian bukan ramalan nasib orang yang meninggal, melainkan rangkaian hari peringatan sejak hari kematiannya. Fungsinya lebih ke penanggalan, semacam pengingat kapan keluarga dan tetangga berkumpul untuk mendoakan.
Di banyak daerah Jawa, susunan hari peringatan ini yang biasa dikenal:
- Nelung dina, hari ke-3 sejak kematian
- Mitung dina, hari ke-7
- Matangpuluh, hari ke-40
- Nyatus, hari ke-100
- Mendhak pisan, peringatan satu tahun, dan mendhak pindho, dua tahun
- Nyewu, hari ke-1000, biasanya jadi peringatan penutup
Cara menghitungnya sederhana, tinggal tambahkan hari kematian sebagai hari pertama. Misalnya seseorang meninggal pada hari Senin, maka nelung dina jatuh pada hari Rabu (Senin dihitung hari ke-1, Selasa hari ke-2, Rabu hari ke-3). Mitung dina jatuh pada hari Minggu berikutnya, tujuh hari dari hari kematian dengan cara hitung yang sama. Sebagian keluarga menghitung mundur dari tanggal pemakaman kalau pemakaman dilakukan bukan di hari yang sama dengan kematian, jadi ada baiknya dicek dulu kebiasaan yang dipakai keluarga besar.
Kaitan weton dan hari meninggal menurut sebagian tradisi
Sebagian tradisi Jawa juga mencatat weton atau neptu hari meninggal, gabungan hari dan pasaran seperti Selasa Kliwon atau Kamis Legi. Catatan ini dipakai keluarga untuk keperluan penanggalan, misalnya menentukan hari peringatan berikutnya jatuh di hari dan pasaran apa, bukan untuk menilai baik atau buruknya kepergian seseorang.
Penting digarisbawahi, primbon tidak dipakai untuk menyimpulkan keadaan almarhum di alam lain. Itu berada di luar apa yang dibahas primbon sebagai catatan hari. Primbon berbicara soal siklus kalender, bukan soal nasib jiwa.
Di luar itu, sebagian keluarga juga mencermati weton orang yang ditinggalkan, terutama terkait hari-hari yang secara tradisi dianggap perlu dijalani dengan lebih berhati-hati. Praktik ini dipegang berbeda-beda antar keluarga, ada yang menjalankannya dengan tertib, ada juga yang tidak menganggapnya penting sama sekali. Tidak ada yang salah dari kedua sikap ini.
Kenapa tafsir dan praktiknya beda-beda antar daerah
Istilah dan urutan hari slametan bisa berbeda sebutannya antara Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta, meski kerangka besarnya serupa. Ada daerah yang menyebut matangpuluh dengan istilah lain, ada juga yang menambahkan peringatan di hari-hari tertentu yang tidak dikenal di daerah lain.
Pengaruh Islam Jawa dan kejawen membuat sebagian keluarga menambah doa bersama atau tahlilan pada hari-hari peringatan tersebut, sementara keluarga lain menyederhanakan acaranya tanpa mengubah nilai penghormatan yang dikandungnya. Bentuk acaranya bisa berbeda, tapi maksudnya sama, mengenang dan mendoakan.
Tidak ada satu sumber primbon yang jadi rujukan tunggal untuk semua ini. Naskah dan tradisi lisan yang berkembang di satu wilayah bisa berbeda dari wilayah tetangga, jadi wajar bila penjelasan dari orang tua di satu daerah terdengar berbeda dari yang kamu dengar di daerah lain.
Yang lebih dibutuhkan keluarga saat ini daripada hitungan
Di hari-hari awal setelah kematian, hal yang lebih mendesak biasanya bukan hitungan primbon, melainkan urusan praktis: pengurusan jenazah sesuai ajaran agama yang dipeluk keluarga, pengambilan surat kematian dari kelurahan atau rumah sakit, dan koordinasi dengan sanak saudara yang perlu dikabari.
Hitungan hari slametan biasanya menyusul setelah urusan pemakaman selesai. Nelung dina saja masih beberapa hari ke depan, jadi tidak perlu dikejar buru-buru di tengah kesibukan awal yang memang sudah berat.
Mengikuti atau tidak mengikuti tradisi slametan sepenuhnya jadi pilihan keluarga. Sebagian keluarga menjalankannya penuh sampai nyewu, sebagian lain memilih cara yang lebih sederhana sesuai kondisi dan keyakinan masing-masing. Tidak ada pilihan yang lebih benar dari yang lain.
FAQ
Apakah hitungan hari kematian menentukan nasib almarhum?
Tidak. Primbon berhenti di soal penanggalan dan penghormatan, bukan penilaian atas keadaan orang yang telah tiada.
Apakah semua keluarga Jawa menjalankan nyewu?
Tidak semua. Banyak keluarga berhenti di nyatus atau di peringatan mendhak, tergantung tradisi keluarga dan kebiasaan di wilayah masing-masing.
Bolehkah slametan digabung atau disesuaikan waktunya?
Banyak keluarga menyesuaikan waktu pelaksanaannya sesuai kondisi, misalnya menggabungkan acara agar lebih mudah mengumpulkan sanak saudara. Ini lazim terjadi dan tidak mengurangi makna penghormatannya.